GONAD BULU BABI MENGATASI ANEMIA PADA REMAJA
Keywords:
mengatasi, anemia, remajaAbstract
Pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dipisahkan dari kesehatan remaja putri, saat ini prevalensi anemia pada remaja putri masih menjadi masalah kesehatan. RISKESDAS melaporkan terjadi peningkatan anemi remaja usia 15-24 tahun dari tahun 2013 (18,4%) menjadi 32% tahun 2018 artinya setiap 10 remaja putri terdapat 3-4 orang mengalami anemi. Anemia pada remaja putri memberi kontribusi terhadap kejadian stunting pada anak balita. Stunting merupakan masalah kesehatan didunia terutama pada negera berpenghasilan menengah dan rendah termasuk Indonesia. Prevalensi stunting Nasional masih diatas target WHO (RISKESDAS, 2019). Target penurunan stunting yang dituangkan dalam RPJM Kementerian Kesehatan tahun 2021-2024 adalah 14%, sementara saat ini prevalensi stunting masih 24,4% (SSGI, 2021) dan lebih tinggi dari beberapa negara Asean. (Kemenkes RI, 2021) Anemia adalah suatu keadaan patologis akibat kehilangan komponen darah, elemen tidak adekuat karena kurangnya nutrisi yang dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah yang mengakibatkan penurunan kapasitas pengangkut oksigen darah. Anemia pada remaja mengakibatkan hilangnya konsentrasi belajar, produktifitas dan rendahnya kualitas sumber daya manusia. Status gizi merupakan salah satu faktor yang berhubungan dengan anemi remaja (Suryani, Hernaman and Ningsih, 2017). Upaya untuk mengatasi masalah anemi pada remaja putri saat ini adalah edukasi (Putri, no date) untuk meningkatkan kepedulian terhadap pemberian suplemen tablet besi, sosialisasi tentang makanan jajanan sekolah dan PMT, namun belum ada program khusus pengembangkan PMT untuk mengatasi keadaan kurang energi kronik oleh pemerintah. Pemberian daun kelor dapat digunakan sebagai alternatif meningkatkan kadar Hb remaja putri (Fauziandari, 2019)
