Deteksi Dini Stunting Melalui Risiko Komplikasi Kehamilan
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.15894717Keywords:
Stunting, Komplikasi, KehamilanAbstract
Persoalan stunting merupakan masalah global yang dihadapi banyak negara. Data organisasi kesehatan dunia, World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa pada tahun 2020 sekitar 149,2 juta (22%) anak dibawah umur 5 tahun di dunia mengalami stunting. Hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2022 menunjukan persentase bayi dan balita yang mengalami stunting di seluruh wilayah Indonesia sebesar 21,6%. Di Provinsi Jawa Timur sebesar 19,2%; dan di Kabupaten Sidoarjo sebesar 16,1%. Stunting dapat disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu faktor yang berasal dari faktor ibu, anak, dan lingkungan (1). Stunting adalah masalah gizi kronis akibat kurangnya asupan gizi dalam jangka waktu panjang sehingga mengakibatkan terganggunya pertumbuhan pada anak. Stunting juga menjadi salah satu penyebab tinggi badan anak terhambat, sehingga lebih rendah dibandingkan anak-anak seusianya. Tidak jarang masyarakat menganggap kondisi tubuh pendek merupakan faktor genetika dan tidak ada kaitannya dengan masalah kesehatan. Faktanya, faktor genetika memiliki pengaruh kecil terhadap kondisi kesehatan seseorang dibandingkan dengan faktor lingkungan dan pelayanan kesehatan. Biasanya, stunting mulai terjadi saat anak masih berada dalam kandungan dan terlihat saat mereka memasuki usia dua tahun. Stunting memiliki gejala-gejala yang bisa dikenali, misalnya: Wajah tampak lebih muda dari anak seusianya, pertumbuhan tubuh dan gigi yang terlambat, memiliki kemampuan fokus dan memori belajar yang buruk, pubertas yang lambat, saat menginjak usia 8-10 tahun, anak cenderung lebih pendiam dan tidak banyak melakukan kontak mata dengan orang sekitarnya dan berat badan lebih ringan untuk anak seusianya.
