Pencegahan dan Penanganan Perdarahan Postpartum dalam Praktik Maternitas
DOI:
https://doi.org/10.5281/pjybrx69Keywords:
Perdarahan Postpartum, Kegawatdaruratan Obstetri, Keselamatan MaternalAbstract
Perdarahan postpartum (postpartum hemorrhage/PPH) merupakan salah satu komplikasi obstetri yang paling serius dan hingga saat ini masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas ibu di berbagai negara, terutama di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan obstetri yang membutuhkan pengenalan dini, penanganan yang cepat, tepat, dan terkoordinasi untuk mencegah terjadinya syok hipovolemik, kegagalan multiorgan, hingga kematian maternal. Meskipun perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi kesehatan, dan pelayanan obstetri telah mengalami kemajuan yang signifikan, angka kejadian serta dampak perdarahan postpartum masih menjadi tantangan besar bagi sistem pelayanan kesehatan di seluruh dunia. Oleh karena itu, pencegahan dan penanganan perdarahan postpartum menjadi salah satu prioritas utama dalam upaya meningkatkan keselamatan ibu selama masa persalinan dan nifas.
Secara klinis, World Health Organization (WHO) mendefinisikan perdarahan postpartum sebagai kehilangan darah sebanyak ≥500 mL setelah persalinan pervaginam atau ≥1.000 mL setelah persalinan melalui seksio sesarea, atau setiap kehilangan darah yang menyebabkan instabilitas hemodinamik dalam waktu 24 jam setelah persalinan. Namun demikian, perkembangan konsep terkini menekankan bahwa besarnya volume perdarahan tidak selalu mencerminkan tingkat keparahan kondisi pasien. Penilaian klinis terhadap tanda-tanda syok, perubahan status hemodinamik, dan kondisi umum ibu menjadi komponen penting dalam menentukan tingkat kegawatan dan kebutuhan intervensi segera. Pendekatan ini menunjukkan bahwa diagnosis perdarahan postpartum tidak hanya didasarkan pada kuantitas kehilangan darah, tetapi juga mempertimbangkan respons fisiologis ibu terhadap perdarahan.
