Strategi Pencegahan Anemia Pada Ibu Hamil Sebagai Upaya Menurunkan Risiko Stunting Dan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR)
DOI:
https://doi.org/10.5281/bc2r5q81Keywords:
Anemia pada Kehamilan, Defisiensi Zat Besi, Kesehatan Ibu dan JaninAbstract
Anemia pada kehamilan masih menjadi salah satu masalah kesehatan masyarakat yang mendapat perhatian serius di berbagai negara, terutama di negara berkembang. Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) mendefinisikan anemia pada kehamilan sebagai kondisi kadar hemoglobin (Hb) kurang dari 11 g/dL pada trimester pertama dan ketiga atau kurang dari 10,5 g/dL pada trimester kedua. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kesehatan ibu, tetapi juga berdampak terhadap pertumbuhan dan perkembangan janin sehingga meningkatkan risiko komplikasi kehamilan maupun luaran neonatal yang kurang baik yang berkontribusi terhadap tingginya angka kesakitan serta kematian ibu dan bayi di berbagai negara (WHO, 2024).
Kehamilan merupakan periode terjadinya peningkatan kebutuhan zat gizi, terutama zat besi, asam folat, vitamin B12, dan protein untuk mendukung pembentukan sel darah merah, pertumbuhan plasenta, serta perkembangan janin. Apabila selama kehamilan kebutuhan zat besi tidak terpenuhi, kondisi tersebut dapat berkembang menjadi anemia defisiensi besi yang merupakan jenis anemia paling sering ditemukan pada ibu hamil (Cunningham et al., 2022).
