Strategi Kesiapan Kesehatan Gigi dan Mulut Ibu Hamil Menghadapi Krisis Iklim dan Bencana
DOI:
https://doi.org/10.5281/mn2ah479Keywords:
Perubahan Iklim, Kesehatan Ibu Hamil, Kerentanan Maternal.Abstract
Perubahan iklim saat ini bukan lagi sekadar ramalan masa depan, melainkan kenyataan pahit yang kita rasakan sehari-hari. Fenomena alam seperti cuaca yang tidak menentu, banjir bandang, badai, hingga kekeringan panjang kini semakin sering terjadi dan merusak fasilitas umum, termasuk pusat-pusat kesehatan (Watts et al., 2024). Sayangnya, dampak buruk dari kerusakan lingkungan ini tidak menimpa semua orang dengan cara yang sama. Masyarakat miskin, tinggal di daerah rawan, dan kelompok rentan adalah pihak yang paling menderita karena mereka tidak memiliki tabungan atau fasilitas yang cukup untuk melindungi diri (Romanello et al., 2025). Akibatnya, perubahan iklim ini memperlebar jurang ketimpangan kesehatan di masyarakat (Intergovernmental Panel on Climate Change [IPCC], 2023).
Di antara berbagai kelompok masyarakat tersebut, ibu hamil berada di posisi yang paling rawan dan menghadapi risiko yang berlapis-lapis. Secara biologis, tubuh ibu hamil mengalami perubahan besar, mulai dari suhu tubuh, fungsi jantung, hingga sistem kekebalan tubuh. Perubahan ini membuat fisik ibu hamil lebih sensitif dan mudah tumbang saat menghadapi stres lingkungan, seperti gelombang panas ekstrem atau polusi (Bekkar et al., 2020). Ketika bencana alam melanda, situasi menjadi jauh lebih sulit karena klinik atau bidan langganan mereka mungkin hancur atau tidak bisa diakses (Harville et al., 2021). Kondisi posko pengungsian yang padat, kotor, dan stres berat pascabencana pada akhirnya meningkatkan risiko keguguran atau gangguan kehamilan lainnya (Rataj et al., 2022).
