Etika, Komunikasi, dan Keselamatan Pasien dalam Pelayanan Maternitas
DOI:
https://doi.org/10.5281/dc4t3g90Keywords:
Keselamatan Pasien, Etika Pelayanan Maternitas, Pengambilan Keputusan BersamaAbstract
Pelayanan maternitas berlangsung pada fase kehidupan yang sehat secara fisiologis, tetapi dapat berubah menjadi kegawatdaruratan dalam waktu singkat. Di dalamnya terdapat dua penerima manfaat yang saling berhubungan, yaitu perempuan dan janin atau bayi, serta keluarga yang ikut membentuk keputusan. Kompleksitas ini membuat mutu klinis tidak dapat dipisahkan dari etika dan komunikasi. Tindakan yang secara teknis tepat belum tentu bermutu apabila dilakukan tanpa penjelasan, persetujuan, privasi, atau penghormatan terhadap pilihan perempuan. Sebaliknya, komunikasi yang hangat tanpa kemampuan mengenali bahaya juga tidak cukup menjamin keselamatan. Pelayanan maternitas yang baik menyatukan kompetensi klinis, penghormatan martabat, pengambilan keputusan bersama, dan sistem pencegahan bahaya yang dapat dihindari (World Health Organization [WHO], 2021a, 2024a).
Keselamatan pasien didefinisikan sebagai kerangka kegiatan terorganisasi yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi, dan lingkungan untuk menurunkan risiko secara konsisten, mengurangi kejadian bahaya yang dapat dihindari, serta mengurangi dampaknya ketika insiden terjadi. Rencana Aksi Global Keselamatan Pasien 2021–2030 menempatkan pelayanan yang aman dan menghormati pasien sebagai tujuan sistem kesehatan, bukan sekadar tanggung jawab individu. Dalam pelayanan maternitas, kerangka tersebut mencakup pencegahan perdarahan, hipertensi, infeksi, kesalahan obat, keterlambatan rujukan, dan cedera neonatal, sekaligus pencegahan tindakan tanpa persetujuan, perlakuan merendahkan, diskriminasi, dan pengabaian kebutuhan emosional (WHO, 2021a, 2021b).
