Continuity of Care dalam Pelayanan Ibu dan Bayi Baru Lahir
DOI:
https://doi.org/10.5281/fybavh53Keywords:
Angka Kematian Ibu, Kematian Neonatal, Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal.Abstract
Derajat kesehatan ibu dan bayi baru lahir masih menjadi salah satu persoalan besar dalam pembangunan kesehatan di Indonesia. Hasil Sensus Penduduk 2020 menempatkan Angka Kematian Ibu (AKI) nasional pada kisaran 189 per 100.000 kelahiran hidup, sebuah capaian yang membuat Indonesia berada pada posisi tertinggi kedua di kawasan ASEAN, jauh di atas negara tetangga seperti Malaysia, Brunei Darussalam, Thailand, dan Vietnam yang telah berada di bawah 100 per 100.000 kelahiran hidup (Harahap dkk., 2024). Data pencatatan rutin Kementerian Kesehatan melalui sistem Maternal Perinatal Death Notification (MPDN) turut memperlihatkan tren yang belum menggembirakan, di mana jumlah kematian ibu tercatat meningkat dari 4.005 kasus pada tahun 2022 menjadi 4.129 kasus pada tahun 2023, sementara jumlah kematian bayi pada periode yang sama meningkat dari 20.882 menjadi 29.945 kasus (Harahap dkk., 2024; PKMK FK-KMK UGM, 2025).
Penyebab kematian ibu di Indonesia masih didominasi oleh komplikasi yang sesungguhnya dapat dicegah dan ditangani apabila terdeteksi secara dini, yaitu perdarahan pascasalin, preeklamsia dan eklamsia, serta infeksi atau sepsis (PKMK FK-KMK UGM, 2025). Pada sisi bayi baru lahir, kematian neonatal banyak berkaitan dengan prematuritas dan berat badan lahir rendah, asfiksia saat persalinan, serta infeksi neonatal yang sebagian besar juga bersumber pada keterlambatan deteksi risiko dan rujukan. Pemerintah telah menetapkan target penurunan AKI menjadi 183 per 100.000 kelahiran hidup, namun berbagai kajian kebijakan menunjukkan bahwa akses layanan berkualitas yang belum merata, disparitas antarwilayah, dan koordinasi lintas jenjang fasilitas kesehatan yang belum optimal tetap menjadi kendala utama pencapaian target tersebut (PKMK FK-KMK UGM, 2025).
