DETEKSI DINI RISIKO BERAT BADAN LAHIR RENDAH

Authors

  • Dr. Ns. Dhiana Setyorini, S.Kep., M.Kep., Sp.Mat Poltekkes Kemenkes Surabaya Author

DOI:

https://doi.org/10.5281/4e1ft527

Keywords:

Berat badan lahir rendah (BBLR), Deteksi dini, Kehamilan risiko tinggi

Abstract

Bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR) memiliki risiko mengalami stunting pada masa tumbuh kembangnya, selain itu BBLR juga berisiko mengalami kematian lebih tinggi ketimbang bayi dengan bobot lahir normal. Masalah kesehatan lain yang bisa terjadi dari bayi BBLR adalah terlalu banyak sel darah merah sehingga membuat darah terlalu kental (polycythaemia), menghirup sebagian bau feses awal mereka (meconium) yang sebabkan kesulitan bernapas (asphyxia), kadar gula darah rendah (hypoglycaemia), dan kesulitan untuk membuatnya tetap hangat (Hypotermi). BBLR juga berpengaruh terhadap kesehatan bayi di masa depan. Bayi BBLR punya peluang besar terkena diabetes, penyakit ginjal, dan kelainan jantung saat remaja. Karena itu, dengan mengenal dan melakukan penanganan yang tepat risiko-risiko tersebut bisa diatasi (Indri Hartiningrum,2018) Menurut WHO, semua bayi yang memiliki bobot tubuh kurang dari 2,5 kilogram dikategorikan sebagi bayi BBLR atau berat badan lahir rendah, terlepas dari usia kehamilan mereka, BBLR berbeda dengan bayi prematur. Pada bayi prematur, bayi dilahirkan sebelum masuk 37 minggu masa kehamilan. Karena tidak menyelesaikan perkembangan di rahim dengan „tuntas‟, maka bayi prematur biasanya membutuhkan perawatan khusus di NICU (neonatal intensive care unit) dan memiliki bobot tubuh yang rendah. Sedangkan pada kasus BBLR, bayi sudah menjalani masa kehamilan dengan sempurna (lahir setelah minggu ke-37 kehamilan) tapi berat badannya kurang dari 2,5 kilogram (Fitri, 2012).

Downloads

Published

2025-08-29

Issue

Section

Articles

How to Cite

DETEKSI DINI RISIKO BERAT BADAN LAHIR RENDAH. (2025). Bookchapter Maternitas, 2(1). https://doi.org/10.5281/4e1ft527