PRAKONSEPSI SEHAT: PENCEGAHAN KURANG ENERGI KRONIS (KEK) PADA REMAJA PUTRI MELALUI EDUKASI DIGITAL
DOI:
https://doi.org/10.5281/xtxdxb36Keywords:
Prakonsepsi sehat, Kurang Energi Kronis (KEK)Abstract
Gizi masih menjadi tantangan global, dengan 462 juta orang mengalami kekurangan berat Masa prakonsepsi adalah periode sebelum terjadinya kehamilan yang bertujuan untuk mempersiapkan kondisi fisik, mental, sosial, dan gizi seorang perempuan agar mampu menjalani kehamilan yang sehat serta melahirkan generasi yang berkualitas (WHO, 2013). Konsep ini menekankan bahwa kesehatan seorang perempuan sebaiknya dijaga dan dipantau sejak usia remaja, bukan hanya ketika sudah hamil. WHO melaporkan bahwa masalah kekurangan badan dan 45 juta orang masuk kategori kurus pada tahun 2020 (WHO, 2021). Kondisi ini mencerminkan adanya masalah Kurang Energi Kronis (KEK) yang dapat mengancam kesehatan remaja putri dan ibu hamil.
Di Indonesia, hasil Riskesdas 2018 menunjukkan prevalensi KEK pada wanita usia 15–49 tahun mencapai 17,3% pada wanita hamil dan 14,5% pada wanita tidak hamil. Angka ini lebih tinggi pada remaja putri usia 15–19 tahun yaitu 36,6%. Tingginya prevalensi KEK pada remaja menunjukkan bahwa masa prakonsepsi menjadi momen kritis untuk melakukan intervensi. Jika kondisi KEK tidak ditangani sejak dini, maka risiko komplikasi kehamilan, anemia, bayi berat lahir rendah (BBLR), stunting, bahkan kematian ibu dan bayi akan meningkat (Febry et al., 2020; Kemenkes, 2018). KEK pada remaja putri tidak hanya dipengaruhi oleh status gizi dan pola makan, tetapi juga oleh faktor internal seperti genetik, penyakit infeksi, serta indeks massa tubuh (IMT), maupun faktor eksternal seperti lingkungan, pendapatan keluarga, tingkat pendidikan, dan pengetahuan gizi (Fakhriyah et al., 2022). Pola makan remaja sering kali dipengaruhi oleh body image, sehingga mereka cenderung melakukan diet ekstrem tanpa memperhatikan gizi seimbang (Pantaleon, 2019). Akibatnya, kebutuhan energi dan nutrisi tidak tercukupi, dan kondisi KEK semakin meningkat.
Dalam konteks prakonsepsi, kesiapan fisik dan mental seorang perempuan menjadi kunci. Kesiapan fisik mencakup status gizi yang optimal, bebas dari anemia, serta terbiasa menjalani pola hidup sehat. Sementara kesiapan mental mencakup kesadaran akan risiko kesehatan, pemahaman reproduksi, dan kesiapan emosional untuk menjadi calon ibu. Apabila remaja putri sejak dini memiliki status gizi yang baik dan pengetahuan kesehatan yang memadai, maka risiko KEK dan dampaknya terhadap kehamilan dapat ditekan. Selain itu, pendekatan prakonsepsi dalam pencegahan KEK perlu dilakukan secara komprehensif dan terintegrasi, melibatkan keluarga, sekolah, pelayanan kesehatan, dan lingkungan sosial. Edukasi gizi dan kesehatan reproduksi harus diberikan secara berkesinambungan dengan memanfaatkan media yang sesuai dengan karakteristik remaja, misalnya melalui aplikasi smartphone, media sosial, dan game edukasi. Media digital dinilai lebih efektif menjangkau remaja yang sehari-hari akrab dengan teknologi (Sudiarto et al., 2019; Fedele et al., 2017).
