PENGARUH RELAKSASI BENSON TERHADAP NYERI DADA PADA PASIEN SINDROM KORONER AKUT
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.15904119Keywords:
relaksasi, nyeri dada, sindromAbstract
Meskipun kemajuan besar telah dicapai dalam diagnosis dan pengobatan sindrom koroner akut (SKA), penyakit kardiovaskular masih menjadi penyebab utama kematian secara global, dengan hampir separuh kematian disebabkan oleh penyakit jantung iskemik (Bergmark, et al., 2022). SKA ditandai dengan penurunan suplai darah ke jantung secara tiba-tiba dan mencakup infark miokard elevasi segmen ST (STEMI), non-STEMI (NSTEMI), dan angina tidak stabil. Setiap tahunnya, diperkirakan lebih dari 7 juta orang di dunia didiagnosis menderita SKA (Bhatt, et al., 2022).
Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (2019) menyebutkan bahwa prevalensi penyakit SKA di Indonesia pada tahun 2015 meningkat sebesar 15 per 1000 orang atau sekitar 2,784,064 orang dan menempati urutan pertama pada masalah kardiovaskular. Survei Sample Registration System yang dilakukan oleh Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) pada tahun 2018 menyebutkan bahwa kematian SKA sebesar 12,9% dari seluruh kematian di Indonesia. Berdasarkan data Riskesdas (2018), prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter di Indonesia sebesar 1,5% dari total penduduk dan tiga provinsi dengan penyakit jantung tertinggi yaitu Provinsi Kalimantan Utara 2,2%, Gorontalo 2% dan Daerah Istimewa Yogyakarta 2% (Indonesia, Kementerian Kesehatan Republik, 2019).
