KEPATUHAN TERAPI, PEMANTAUAN MANDIRI, DAN DUKUNGAN KELUARGA
DOI:
https://doi.org/10.5281/10r3ed16Abstract
Hipertensi merupakan faktor risiko utama penyakit kardiovaskular, stroke, dan penyakit ginjal kronik yang dapat dicegah. Laporan global Organisasi Kesehatan Dunia menunjukkan bahwa jumlah orang dewasa yang hidup dengan hipertensi meningkat dua kali lipat dalam tiga dekade, dari sekitar 650 juta pada tahun 1990 menjadi 1,3 miliar pada tahun 2019. Hampir separuh dari mereka tidak menyadari kondisinya, dan hanya sekitar satu dari lima penderita yang tekanan darahnya terkendali (World Health Organization (WHO), 2023) . Angka ini memperlihatkan bahwa persoalan utama hipertensi saat ini bukan terletak pada ketersediaan obat, melainkan pada kemampuan penderita untuk mengelola penyakitnya secara konsisten dalam jangka panjang. Situasi yang sama terjadi di Indonesia, dimana Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 mencatat prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia 18 tahun ke atas sebesar 30,8%, sedangkan prevalensi berdasarkan diagnosis dokter hanya 8,6% (Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, 2023) . Kesenjangan lebih dari 20 poin persentase ini menandakan banyaknya kasus yang belum terdiagnosis. Pedoman Nasional Pelayanan Klinis (PNPK) Tata Laksana Hipertensi Dewasa terbaru bahkan memperkirakan hanya sekitar seperempat kasus hipertensi di Indonesia yang telah terdiagnosis (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2026) . Bagi penderita yang sudah terdiagnosis pun, tantangan berikutnya adalah menjaga tekanan darah tetap berada dalam target dari hari ke hari.
