TINGKAT HEALTH LITERACY TERHADAP PENERAPAN SELF CARE MANAGEMENT PADA PASIEN DIABETES MELITUS TIPE 2
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.15896198Keywords:
self care, diabetes, mellitus, melitus, management, tipe 2Abstract
Penyakit tidak menular (PTM) seperti diabetes melitus menjadi ancaman utama bagi kesehatan global saat ini. Yang dibuktikan dengan jumlah penyakit diabetes melitus terus menerus meningkat setiap tahunnya. Diabetes Melitus dikenal sebagai penyakit silent killer karena banyak orang tidak menyadarinya dan saat diketahui sudah terjadi komplikasi. Komplikasi pada penderita diabetes disebabkan oleh banyak faktor terutama diakibatkan sebagian besar penderita tidak mampu menerapkan perawatan diri secara mandiri (self care management) dengan optimal. (Endra Cita et al., 2019). Penyebab ketidakmampuan menerapkan perawatan diri secara mandiri (self care management) salah satunya adalah minimnya informasi kesehatan. Bahaya informasi kesehatan yang rendah akan mengakibatkan ketidakmampuan menerapkan perawatan diri secara mandiri (Self care management). Self care management ini sebagai intervensi keperawatan menjadi kunci keberhasilan pengelolaan penyakit tidak menular diabetes melitus. Penerapan Self care management sangat diperlukan untuk mendukung pencapaian status kesehatan yang optimal . (Adimuntja, 2020).
Atlas International Diabetes Federation (IDF) edisi ke 10 tahun 2021, memperhitungkan angka kejadian orang menderita Diabetes Melitus di dunia pada tahun 2021 sebanyak 537 juta orang dan angka ini diproyeksikan mencapai 643 juta orang pada tahun 2030 di dunia, dan juga diproyeksikan 783 juta orang pada tahun 2045 di dunia. (IDF, 2020). Angka kejadian Diabetes Melitus di Indonesia menempati urutan ke tujuh tertinggi dengan jumlah penderita DM sebesar 10,7 juta orang. (IDF, 2019). Hasil prevalensi DM berdasarkan pemeriksaan darah pada penduduk umur >15 tahun pada tahun 2013 sebanyak (6,9%) dan mengalami peningkatan pada tahun 2018 menjadi (8,5%). Penderita DM di Indonesia lebih banyak berjenis kelamin perempuan sebanyak (1,78%) dari pada laki-laki sebanyak (1,21%) pada tahun 2018 (Riskesdas, 2018). Sedangkan pada 2021 International Diabetes Federation (IDF) mencatat pengidap diabetes sebanyak 19,47 juta, dengan jumlah penduduk sebesar 179,72 juta berarti prevalensi diabetes di Indonesia sebesar 10,6%. Prevalensi DM di Jawa timur berdasarkan diagnosa dokter pada kelompok umur > 15 tahun yaitu pada tahun 2013 (2%) dan mengalami peningkatan pada tahun 2018 menjadi (2,6%) (Riskesdas, 2018). Sedangkan pada 2021 Berdasarkan data sekunder yang diperoleh dari Dinas Kesehatan Kota Jember ditemukan jumlah kasus diabetes melitus pada tahun 2022 sebesar 35,413 jiwa dari 41 puskesmas di kota Jember (Dinkes, 2022). Dari data tersebut di dapat pula bahwa kasus DM Tipe 2 tertinggi ke 14 dari 41 puskesmas, yaitu sebanyak 643 jiwa (Dinkes, 2022). Penelitian terdahulu yaitu universitas Indonesia mendapatkan sekitar 57,9% penderita diabetes melitus mengalami self care management yang rendah, aktivitas diet yang kurang baik 40,4 %, aktivitas fisik yang kurang baik 49,1%, Perawatan Kaki yang kurang baik 42,1%, Pengobatan yang kurang baik 17,5% baik, kontrol gula darah yang kurang baik 3,5%.
