Konsep Dasar Anemia
DOI:
https://doi.org/10.5281/af9jtd64Keywords:
anemiaAbstract
Remaja menghadapi masalah bukan hanya perkembangan tetapi juga pertumbuhan. Dalam hal ini, masalah nutrisi yang dihadapi remaja akan berdampak pada status gizi mereka. Anemia dapat terjadi pada remaja, terutama perempuan (Elisa & Oktarlina, 2023). Anemia adalah kondisi di mana jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin (Hb) di dalam darah seseorang kurang dari normal dan tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan fisiologis (Chaparro & Suchdev, 2019) dan (Astuti, 2023). Pada remaja putri berusia 12–15 tahun, kadar Hb normal adalah 12 g (Elisa & Oktarlina, 2023). Beberapa hal, seperti kekurangan zat gizi, perdarahan, dan hemolitik, dapat menyebabkan anemia. Mengurangi asupan makanan hewani dan nabati, yang merupakan sumber zat besi, adalah bagian penting dari pembentukan hemoglobin, yang merupakan komponen sel darah merah atau eritrosit. Asam folat dan vitamin B12 juga merupakan zat gizi lain yang penting untuk pembentukan hemoglobin. Penderita anemia biasanya menunjukkan gejala 5 L (Lesu, Letih, Lemah, Lelah, Lalai), disertai dengan mata berkunang-kunang, mengantuk, cepat capai, dan sulit untuk focus. Secara klinis, penderita anemia ditandai dengan "pucat" di muka, kelopak mata, bibir, kulit, kuku, dan telapak tangan (Kemenkes RI, 2018). Kelainan darah yang biasa disebut anemia terjadi ketika jumlah sel darah merah tubuh terlalu rendah, yang menyebabkan rendahnya kadar hemoglobin dalam darah, yang mengganggu pasokan oksigen tubuh. Salah satu gejala penyakit yang dikenal sebagai anemia adalah gejala yang biasanya diklasifikasikan sebagai kronis atau akut. Anemia kronis berlangsung lama, sedangkan anemia akut berkembang dengan cepat. Gejala yang menunjukkan penyakit dapat menentukan apakah itu kronis atau akut. Pada anemia kronis, gejala biasanya berkembang secara bertahap dan perlahan, sedangkan pada anemia akut, gejala biasanya muncul dengan cepat dan cenderung lebih berat (Rahayu, 2019).
