ANEMIA PADA REMAJA PUTRI: FAKTOR RESIKO, DAMPAK DAN STRATEGI PENCEGAHAN
DOI:
https://doi.org/10.67717/00qmjf13Abstract
Anemia adalah kondisi ketika tubuh memiliki jumlah sel darah merah sehat atau kadar hemoglobin yang lebih rendah dari normal. Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang berperan mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh jaringan tubuh. Kondisi anemia dapat menyebabkan seseorang mengalami kelelahan, kelemahan, dan sesak napas. Penyebab anemia beragam, antara lain kekurangan zat besi, vitamin B12, atau folat, kehilangan darah, serta gangguan pada sumsum tulang yang memengaruhi pembentukan sel darah merah. Anemia dapat menyebabkan berkurangnya pasokan oksigen ke jaringan tubuh sehingga penderitanya berpotensi mengalami berbagai gejala, seperti kulit tampak pucat, tubuh terasa lemah dan mudah lelah, pusing atau sakit kepala, serta pandangan berkunang-kunang (Kemenkes RI, 2026).
Menurut World Health Organization (WHO), anemia masih menjadi masalah kesehatan global dengan estimasi sekitar 1,3 miliar penduduk dunia mengalami kondisi tersebut, dengan prevalensi sebesar 32,9%. Sementara itu, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 menunjukkan bahwa prevalensi anemia di Indonesia masih perlu mendapat perhatian, yaitu sebesar 23,8% pada anak usia 0–4 tahun, 15,3% pada kelompok usia 5–14 tahun, dan 15,5% pada kelompok usia 15–24 tahun. Anemia masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang ditemukan di berbagai kabupaten dan kota di Indonesia. Permasalahan ini perlu ditangani secara serius karena anemia dapat berdampak pada penurunan produktivitas, kemampuan menjalankan aktivitas sehari-hari, serta kesejahteraan individu dan keluarga (Kemenkes RI, 2026).
