ANEMIA PADA KEHAMILAN DAN MASANIFAS: DETEKSI, DAMPAK, DANPRINSIP PENATALAKSANAAN
DOI:
https://doi.org/10.67717/cp6k0415Abstract
Anemia pada kehamilan dan masa nifas merupakan salah satu masalah kesehatan maternal yang memerlukan perhatian karena dapat memengaruhi kondisi fisiologis ibu, toleransi terhadap kehilangan darah selama persalinan, serta proses pemulihan setelah melahirkan. Kehamilan menyebabkan peningkatan kebutuhan zat besi untuk mendukung pembentukan eritrosit maternal, pertumbuhan plasenta, dan perkembangan janin. Apabila kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, cadangan zat besi dapat menurun dan menyebabkan anemia defisiensi besi (Mintsopoulos et al., 2024). Meskipun demikian, anemia pada kehamilan tidak selalu disebabkan oleh kekurangan zat besi, tetapi dapat pula berkaitan dengan defisiensi folat atau vitamin B12, inflamasi, infeksi, penyakit kronis, dan kelainan hemoglobin (Kementerian Kesehatan, 2020) .
Secara global, anemia masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang memengaruhi perempuan usia reproduktif, khususnya selama kehamilan. World Health Organization (WHO) melaporkan bahwa pada tahun 2019 prevalensi anemia pada perempuan hamil di dunia mencapai 36,5%, lebih tinggi dibandingkan perempuan tidak hamil yang sebesar 29,6%. WHO juga memperkirakan bahwa sekitar 570,8 juta perempuan berusia 15–49 tahun mengalami anemia pada tahun yang sama. Anemia berat selama kehamilan menjadi perhatian khusus karena berkaitan dengan peningkatan risiko kematian maternal dan perinatal, berat badan lahir rendah, serta gangguan pertumbuhan dan perkembangan bayi (World Health Organization, 2024). Data tersebut menunjukkan bahwa anemia maternal bukan hanya persoalan pemenuhan gizi individu, melainkan juga tantangan dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan ibu dan anak secara global.
