ANEMIA PADA ANAK: FAKTOR RISIKO, DETEKSI,DAN PRINSIP PENATALAKSANAAN
DOI:
https://doi.org/10.67717/p3dmcr03Abstract
Anemia merupakan salah satu masalah kesehatan anak yang paling sering dijumpai dalam praktik sehari-hari, baik di fasilitas pelayanan kesehatan primer maupun di rumah sakit rujukan. Anemia didefinisikan sebagai kondisi ketika konsentrasi hemoglobin (Hb) atau jumlah sel darah merah dalam darah berada di bawah batas normal sesuai usia, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis, sehingga kapasitas darah untuk membawa oksigen ke jaringan menurun (WHO, 2011). Anemia bukan suatu diagnosis akhir, melainkan tanda adanya proses yang mendasari, mulai dari kekurangan zat gizi, infeksi, perdarahan, kelainan genetik sel darah merah, hingga keganasan hematologi.
Pada anak, anemia memiliki arti klinis yang lebih besar dibandingkan pada orang dewasa karena terjadi pada masa pertumbuhan otak dan tubuh yang cepat. Kekurangan besi pada dua tahun pertama kehidupan, misalnya, dikaitkan dengan gangguan perkembangan kognitif, motorik, dan perilaku yang sebagian dapat menetap meskipun anemianya telah dikoreksi (Lozoff & Georgieff, 2006). Karena itu, anemia pada anak tidak boleh dipandang sebatas temuan laboratorium, tetapi sebagai masalah yang menyangkut kualitas sumber daya manusia di masa depan.
