PENDEKATAN KLINIS DANPEMERIKSAAN LABORATORIUMDALAM DIAGNOSIS ANEMIA
DOI:
https://doi.org/10.67717/71mhs122Abstract
Anemia merupakan salah satu gangguan hematologi yang paling sering ditemukan dalam praktik klinis dan menjadi masalah kesehatan masyarakat global. Kondisi ini didefinisikan sebagai keadaan ketika konsentrasi hemoglobin dalam darah berada di bawah batas normal sesuai usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis, dan populasi tertentu, sehingga kemampuan darah dalam membawa oksigen ke jaringan mengalami penurunan. Meskipun sering dianggap sebagai suatu penyakit, anemia sebenarnya merupakan suatu manifestasi klinis yang dapat disebabkan oleh berbagai mekanisme, termasuk gangguan produksi eritrosit, kehilangan darah, maupun peningkatan destruksi sel darah merah (hemolisis). Oleh karena itu, diagnosis anemia tidak cukup hanya berdasarkan kadar hemoglobin, tetapi memerlukan pendekatan sistematis untuk menentukan penyebab yang mendasarinya (World Health Organization [WHO], 2024; Hoffbrand & Moss, 2023). Secara global, anemia masih menjadi salah satu masalah nutrisi dan kesehatan yang signifikan, terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan usia reproduksi, ibu hamil, dan pasien dengan penyakit kronis. Defisiensi besi merupakan penyebab anemia yang paling sering ditemukan, tetapi berbagai kondisi lain seperti inflamasi kronis, gangguan ginjal, kelainan sumsum tulang, hemoglobinopati, defisiensi vitamin B12, dan gangguan absorpsi nutrisi juga berkontribusi terhadap kejadian anemia. Kompleksitas etiologi tersebut menyebabkan pendekatan diagnosis anemia harus mempertimbangkan aspek epidemiologi, riwayat klinis, pemeriksaan fisik, serta interpretasi hasil laboratorium secara terintegrasi (WHO, 2024; Camaschella, 2019).
