ANEMIA DEFISIENSI BESI: METABOLISME BESI, FAKTORPENYEBAB, DAN PATOFISIOLOGIS
DOI:
https://doi.org/10.67717/j4zfsd43Abstract
Anemia defisiensi besi merupakan kondisi yang terjadi ketika ketersediaan besi dalam tubuh tidak mampu memenuhi kebutuhan fisiologis, terutama untuk mendukung proses eritropoiesis dan sintesis hemoglobin. Defisiensi besi dapat berlangsung sebelum anemia berkembang, karena tubuh terlebih dahulu menggunakan cadangan besi untuk mempertahankan fungsi pembentukan eritrosit. Pada tahap awal, penurunan cadangan besi dapat tercermin melalui perubahan parameter status besi, terutama ferritin. Apabila kondisi kekurangan besi berlanjut, ketersediaan besi untuk pembentukan hemoglobin semakin terbatas sehingga akhirnya terjadi penurunan kadar hemoglobin dan berkembang menjadi anemia defisiensi besi. Dengan demikian, anemia defisiensi besi merupakan hasil dari proses kekurangan besi yang berlangsung secara bertahap, bukan sekadar keadaan ketika kadar hemoglobin berada di bawah batas normal (Malik et al., 2025). Besi memiliki peranan penting dalam berbagai proses biologis karena diperlukan oleh berbagai protein dan enzim yang terlibat dalam transportasi oksigen, respirasi seluler, metabolisme energi, sintesis DNA, regulasi gen, serta fungsi sistem imun. Pada manusia, sebagian besar besi tubuh digunakan dalam hemoglobin eritrosit untuk mendukung transportasi oksigen, sehingga kebutuhan eritropoiesis menjadi salah satu faktor utama yang menentukan distribusi dan penggunaan besi. Kekurangan besi karena itu tidak hanya menimbulkan gangguan hematologis, tetapi juga berpotensi memengaruhi fungsi metabolik dan seluler di berbagai jaringan (Enko, 2025).
