Anemia Postpatum & Masa Nifas: Deteksi Dini, Pemulihan, Laktasi Dan Tindak Lanjut

Authors

  • Ns. Aida Kusnaningsih, M.Kep., Sp.Kep.Mat. Poltekkes Kemenkes Palangka Raya Author

DOI:

https://doi.org/10.5281/rqxgwp25

Abstract

Anemia postpartum masih menjadi masalah kesehatan masyarakat yang signifikan karena berdampak pada pemulihan ibu, produksi ASI, dan peningkatan risiko depresi pascapersalinan. Kondisi ini umumnya didefinisikan sebagai kadar hemoglobin <10–11 g/dL setelah persalinan, dengan penyebab utama anemia selama kehamilan dan perdarahan saat persalinan (WHO, 2021). Secara global, prevalensi anemia postpartum bervariasi namun cenderung tinggi. Studi kohort Næss-Andresen dkk. (2022) pada 573 wanita di Norwegia menunjukkan prevalensi anemia berdasarkan Hb <12,0 g/dL sebesar 25%, serum ferritin <15 μg/L sebesar 39%, sTfR >4,4 mg/L sebesar 19%, dan total body iron <0 mg/kg sebesar 22%, menegaskan bahwa estimasi prevalensi bergantung pada parameter status besi yang digunakan. Penelitian lain menunjukkan bahwa masa menyusui merupakan periode rentan terhadap anemia. Studi potong lintang Shimrah dan Devi (2022) pada 400 wanita menyusui melaporkan prevalensi anemia lebih tinggi pada ibu menyusui (62,0%) dibandingkan wanita tidak hamil dan tidak menyusui (56,8%). Meta-analisis tahun 2024 bahkan menunjukkan prevalensi sekitar 69% pada ibu postpartum. Faktor yang berhubungan dengan anemia pascapersalinan meliputi pendidikan rendah, kadar hemoglobin prapersalinan rendah, kunjungan antenatal care kurang dari empat kali, perdarahan pascapersalinan, persalinan dengan forsep atau vakum, operasi sesar, kepatuhan konsumsi zat besi dan asam folat yang buruk, serta keragaman diet yang rendah (Lakew, 2024).

Downloads

Published

2026-04-13

Issue

Section

Articles

How to Cite

Anemia Postpatum & Masa Nifas: Deteksi Dini, Pemulihan, Laktasi Dan Tindak Lanjut. (2026). Book Chapter of Anemia, 2(2). https://doi.org/10.5281/rqxgwp25