Anemia Defisiensi Besi: Diagnosis, Tata Laksana Besi Oral vs Intravena, dan Evaluasi Respo
DOI:
https://doi.org/10.5281/d2dcpv03Abstract
Anemia defisiensi besi (ADB) merupakan masalah kesehatan global yang paling sering ditemukan dan menjadi bentuk anemia yang paling umum di seluruh dunia. Besi merupakan mineral esensial yang berperan penting dalam pembentukan hemoglobin, transport oksigen, metabolisme energi, serta fungsi enzimatik dalam tubuh. Kekurangan besi menyebabkan gangguan sintesis hemoglobin sehingga terjadi penurunan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen ke jaringan tubuh. Secara global, anemia diperkirakan mempengaruhi sekitar 25–33% populasi dunia, dan sekitar 50% kasus anemia disebabkan oleh defisiensi besi. Kondisi ini lebih sering terjadi pada kelompok rentan seperti anak-anak, wanita usia reproduktif, ibu hamil, serta individu dengan penyakit kronis. Organisasi kesehatan dunia (WHO) melaporkan bahwa anemia mempengaruhi sekitar 43% anak usia prasekolah, 38% wanita hamil, dan 29% wanita tidak hamil di seluruh dunia, sehingga menjadikannya salah satu masalah kesehatan masyarakat terbesar yang berkaitan dengan defisiensi mikronutrien. ADB tidak hanya menyebabkan gejala klinis seperti kelelahan, pucat, penurunan konsentrasi, dan sesak napas, tetapi juga berdampak pada produktivitas kerja, perkembangan kognitif anak, serta peningkatan morbiditas dan mortalitas pada kelompok rentan. Oleh karena itu, diagnosis yang tepat dan terapi yang efektif menjadi aspek penting dalam manajemen anemia defisiensi besi.(Nurbadriyah,W.D,2020)
