INOVASI TERAPI DALAM MENGATASI MALNUTRISI PADA ANAK USIA SEKOLAH: SYSTEMATIC REVIEW
DOI:
https://doi.org/10.5281/zenodo.15897452Keywords:
terapi, malnutrisi, anak usia sekolahAbstract
Malnutrisi yang dialami oleh anak usia sekolah dapat meningkatkan prevalensi penyakit tidak menular dan dapat berdampak buruk terhadap kehidupannya. Anak usia sekolah dengan malnutrisi dapat mengalami penurunan fungsi secara fisik, emosional, sosial, dan sekolah (Kunto & Bras, 2021). Permasalahan malnutrisi dapat pula mempengaruhi kontribusi individu terhadap ekonomi negara dikemudian hari. Anak usia sekolah dengan malnutrisi mungkin juga mengalami kualitas hidup yang lebih rendah dimasa mendatang karena penyakit kardiovaskuler, diabetes, dan kanker. WHO mencatat secara global pada tahun 2020 terdapat 149,2 juta anak dibawah usia 5 tahun mengalami stunting, 45,4 juta kurus, dan 38,9 juta kelebihan berat badan (World Health Organization., 2021). Tren global angka kejadian dari tahun 2000 hingga 2020 yaitu prevalensi stunting dari 203, 6 juta ke 149,2 juta anak, prevalensi 45,4 juta ke 13,6 juta anak, obesitas dari 33,3 juta ke 38,9 juta anak (World Health Organization., 2021). UNICEF melaporkan pada tahun 2018 hampir 3 dari 10 anak berusia dibawah 5 tahun menderita stunting atau terlalu pendek untuk usia mereka, sedangkan 1 dari 10 kekurangan berat badan atau terlalu kurus untuk usia mereka, dan seperlima anak usia sekolah dasar kelebihan berat badan atau obesitas (UNICEF, 2021). Laporan nasional riset kesehatan dasar di pada tahun 2013 sampai 2018 prevalensi pada anak usia 5-12 tahun yaitu pendek (30,7% - 23,6%), kurus (11,2-9,8%), obesitas (8,8%-9,2%). Data tersebut menunjukkan tren menurun pada kejadian stunting dan anak kurus, namun mengalami peningkatan pada anak dengan obesitas.
