Anemia pada Bayi dan Balita: Skrining, MPASI Kaya Zat Besi, Infeksi, dan Dampak Tumbuh Kembang

Authors

  • Ika Nurfajriyani, S.Kep., Ns., M.Kep Politeknik Negeri Subang Author

DOI:

https://doi.org/10.5281/1f6ae783

Abstract

Sebanyak 2 dari 5 balita di dunia mengalami anemia. Menurut World Health Organization, sekitar 39.8% anak usia 6-59 bulan di dunia menderita anemia (hemoglobin < 11 g/dl) (World Health Organization, 2025c). Di Indonesia, terjadi peningkatan prevalensi anemia pada anak di bawah 5 tahun dari 2007 hingga 2018, yaitu dari 19.7% menjadi 38.5%. pada tahun 2023, prevalensi anemia pada anak sebesar 23.8% (Priliani et al., 2025). Anemia pada bayi dan balita merupakan masalah global yang harus segera ditangani, dalam Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, masalah anemia termasuk dalam pencapaian SDG 2 yaitu zero hunger. Target 2.2 berkomitmen untuk mengakhiri segala bentuk manutrisi pada tahun 2030. Termasuk mencapai target nutrisi lain yang telah disepakati internasional pada anak di bawah lima tahun yang mencakup stunting, wasting, serta indicator gizi lain yang berkaitan dengan defisiensi mikronutrien termasuk anemia (World Health Organization, 2025b).

Downloads

Published

2026-04-10

Issue

Section

Articles

How to Cite

Anemia pada Bayi dan Balita: Skrining, MPASI Kaya Zat Besi, Infeksi, dan Dampak Tumbuh Kembang. (2026). Bookchapter Anak, 2(2). https://doi.org/10.5281/1f6ae783